Jakarta, 21 Februari 2026 — Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Washington, D.C., Amerika Serikat, dengan agenda utama peningkatan perdagangan bilateral dan investasi. Kunjungan tersebut berlangsung selama tiga hari dan diisi lebih dari 15 pertemuan resmi.
Dalam lawatan tersebut, pemerintah menargetkan peningkatan nilai perdagangan Indonesia–Amerika Serikat dari sekitar US$ 40 miliar per tahun menjadi US$ 60 miliar dalam lima tahun ke depan. Selain itu, dibahas peluang investasi baru tahap awal senilai US$ 10–15 miliar.
Selama kunjungan, Presiden mengikuti pertemuan bilateral tingkat tinggi, forum bisnis, serta dialog industri strategis. Agenda tersebut difokuskan pada sektor energi, mineral, manufaktur, agribisnis, pangan, kesehatan, dan ekonomi digital.
Presiden juga bertemu dengan sekitar 1.000 anggota diaspora Indonesia di Amerika Serikat serta melakukan dialog dengan sejumlah lembaga keuangan internasional dan investor sektor teknologi serta energi bersih. Pemerintah menyampaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5 persen sebagai bagian dari promosi stabilitas ekonomi nasional.
Dalam forum bisnis, tercatat 12 nota kesepahaman ditandatangani dengan nilai indikatif kerja sama sekitar US$ 8,7 miliar. Pemerintah memperkirakan potensi tambahan ekspor dapat mencapai sekitar US$ 5 miliar per tahun. Selain itu, dibahas kerja sama penguatan logistik dan rantai pasok, termasuk rencana modernisasi pelabuhan dan transportasi senilai US$ 1,2 miliar serta program standardisasi produk untuk meningkatkan daya saing ekspor.
Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia turut memimpin pertemuan teknis dengan investor sektor energi, mineral, dan kendaraan listrik. Pertemuan tersebut membahas rencana investasi hilirisasi mineral senilai US$ 7–9 miliar yang mencakup pembangunan fasilitas smelter, pabrik bahan baku baterai, serta fasilitas perakitan kendaraan listrik. Pemerintah juga menegaskan kebijakan hilirisasi untuk komoditas nikel, tembaga, dan bauksit guna meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri.
Dalam sektor migas, pemerintah membahas peluang eksplorasi baru dengan target tambahan produksi hingga 100 ribu barel per hari dalam lima tahun mendatang.
Selain sektor ekonomi dan energi, kunjungan tersebut juga menghasilkan pembahasan kerja sama pendidikan dan riset. Sejumlah universitas dan lembaga riset membuka peluang kolaborasi berupa program beasiswa, pusat inovasi bersama, serta pelatihan digital bagi generasi muda Indonesia.
Dalam agenda terpisah, Presiden menegaskan komitmen Indonesia terhadap stabilitas kawasan Indo-Pasifik dan partisipasi aktif dalam berbagai forum multilateral internasional.
Pemerintah menyatakan hasil kunjungan ini akan ditindaklanjuti melalui pembahasan teknis lanjutan dan implementasi kerja sama sesuai kesepakatan yang telah dicapai.